Rabu, 15 Februari 2012

BLOGGING DAPAT MEMBANTU REMAJA MENGATASI SOSIAL DISTRESS

Blogging memiliki keuntungan psikologis bagi remaja yang menderita  kecemasan sosial,  berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh APA (American Psychological association), blogging dapat meningkatkan harga diri remaja dan membantu mereka berhubungan lebih baik untuk teman-teman mereka.
“Penelitian menunjukkan bahwa menulis dalam bentuk diary pribadi atau  bentuk ekspresif lainnya cara yang bagus untuk melepaskan tekanan emosional dan hanya merasa lebih baik”, kata Meyran Boniel Nissim, PhD dari Universitas Haifa, Israel. “remaja senantiasa online, sehinga blogging memungkinkan kebebasan berekspresi dan berkomunikasi secara mudah dengan orang lain”
Berdasarkan artikel online pada APA Pelayanan Jurnal Psikologis, mempertahankan blog memiliki kuat efek positif pada siswa yang memiliki masalah daripada mereka hanya mengungkapkan kecemasan sosial dan kekhawatiran dalam buku harian pribadi mereka.
Meskipun cyberbullying dan online abuse sangat meluas, kami mencatat bahwa kebanyakan respon yang masuk pada blog partisipan kami bersifat suportif dan positif, asisten peneliti Azy Barak, PhD.
Penelitian yang berhubungan dengan artikel di atas adalah nilai terapi dari kegiatan blog remaja terhadap kesulitan sosial-emosional.
Para peneliti telah melakukan survey secara acak pada siswa-siswa SMA di Israel yang setuju mengisi kuesioner mengenai apa yang mereka rasakan pada kualitas hubungan sosial mereka. Jumlah keseluruhan subjek adalah 161 siswa yang terdiri dari 124 perempuan dan 37 laki-laki yang rata-rata berusa 15 tahun dan dipilih karena dari hasil survey menunjukkan tingkat kecemasan atau distress sosial yang sama. Semua remaja tersebut memiliki kesulitan untuk berhubungan dengan teman yang mereka miliki. Peneliti kemudian mengukur harga diri, kegiatan sosial sehari-hari dan perilaku sebelumnya, segera setelah dan dua bulan setelah 10 minggu percobaan.
Empat kelompok siswa ditugaskan untuk blogging. Dua kelompok diminta untuk fokus menuliskan mengenai masalah sosial mereka, salah satu kelompok membuka posting untuk komentar; dua kelompok lainnya menulis mengenai apa yang mereka inginkan dan salah satu kelompok juga diminta untuk membuka posting komentar. Jumlah dan isi komentar pada postingan kelompok tidak dievaluasi pada eksperimen ini. Dua kelompok lainnya sebagai kelompok kontrol terdiri dari anak yang menuliskan masalah sosialnya pada diari dan anak yang tidak menuliskan apapun. Partisipan yang masuk dalam kelompok blogging diminta untuk menulis blog selama 10 minggu, 2 kali setiap minggunya.
Empat ahli yang merupakan master atau doktor dalam bidang konseling dan psikologi mengasses kondisi sosial dan emosional para blogger remaja dari tulisan yang mereka posting. Siswa yang memiliki tingkat sosial dan emosional yang rendah adalah mereka yang menuliskan masalah pribadi atau hubungan yang buruk atau menunjukkan cirri-ciri harga diri yang rendah misalnya.
Harga diri dan sejumlah perilaku sosial positif secara signifikan meningkat untuk para blogger atau remaja yang melakukan blogging dibandingkan dengan remaja yang tidak melakukan apapun atau hanya menuliskan masalahnya pada diari pribadi. Para remaja yang diinstruksikan untuk menulis secara spesifik kesulitannya dan remaja yang diminta untuk membuka kolom komentar di blognya menunjukkan peningkatan lebih banyak dan konsisten setelah dua bulan kemudian di-follow up kembali. 

          Secara psikologis, pelepasan emosi-emosi negative lewat cara-cara yang tepat seperti mengalihkannya pada aktivitas yang lebih dapat diterima oleh lingkungan sekitar, akan dapat mengurangi kecemasan anak. Menulis blog merupakan kegiatan yang dipilih oleh peneliti untuk mengeluarkan seluruh kecemasan siswa dengan cara yang lebih baik dan dapat diterima oleh masyarakat. Sebab seperti yang banyak kita lihat atau dengar lewat media, banyak kasus-kasus bullying yang terjadi, dan tak jarang korban yang sudah tidak tahan dengan perlakuan bullyi dari temannya akan melepaskan seluruh kemarahan dan kesakitannya dengan menyakiti bahkan membunuh orang lain. Hal ini yang harus diwaspadai oleh para orang tua dan pendidik khususnya.
           Selain itu, menulis blog kemudian diberikan comment secara positif, tentunya menimbulkan setidaknya sedikit perasaan dihargai dan “dirangkul”, terutama jika komentar positif berasal dari teman sebayanya. Karena kita ketahui bahwa pada masa remaja, individu sangat peduli akan keterikatan dan respon dari teman sebaya.
       Sebenarnya setiap hal yang terjadi memiliki dua sisi seperti mata uang, yang kadang menimbulkan dampak positif pada suatu pihak dan menjadi negative untuk pihak yang lainnya. Yang perlu orang tua dan pendidik perhatikan adalah kondisi dari anak-anak yang memiliki harga diri yang rendah serta kecemasan sosial yang tinggi. Penting juga sebenarnya bagi para peneliti di atas untuk mengontrol masuknya komentar-komentar pedas dan ‘menyakitkan’ yang masuk dalam tulisan para partisipannya. Karena kita juga sering mendengar bahwa banyak remaja ataupun anak yang menjadi korban cyberbullying, sehingga sangat penting bagi para orang tua dan pendidik untuk dapat ’mengamongi’ para remaja dan anak, sehingga mereka merasa masih memiliki orang yang peduli dengan mereka. Seperti kata salah seorang pakar pada tulisan saya sebelumnya “berbicaralah selama 1 menit, dan dengarkanlah selama 5 menit”. Kalimat tersebut seperti mengingatkan para orang tua dan pendidik untuk dapat menjadi pendengar yang baik terhadap masalah yang dialami oleh anak atau remaja tadi.  Sebaiknya kita bisa menjadi rumah yang nyaman buat anak dan membantu anak dengan memberikan pengertian yang cukup buatnya, agar anak selalu merasa memiliki ‘tempat untuk kembali’.

1 comments:

Azhar Febrianas mengatakan...

Artikel yg sangat menarik,,,
Ditunggu kunjungan baliknya dan jangan lupa di follow ya,,,,

Template by:

Free Blog Templates